Wednesday, December 14, 2011

Kata Maaf Terakhir


It's Present for Someone         
         Sore itu Ryan masih memandangi hujan yang turun melalui kaca jendela rumahnya. Lalu, Ryan mengambil gelang yang ada diatas meja belajarnya. “Enggak terasa udah dua hari aku dan Citra marahan, sebenarnya aku pingin minta maaf ke dia, tapi kenapa sulit sekali ?” gerutu Ryan dalam hatinya sambil memegang gelang itu. Dulu, Ryan, Citra, dan Putra adalah tiga sahabat yang sangat kompak. Sebagai tanda persahabatan, mereka mengenakan sebuah gelang di tangan kanan mereka. Namun, suatu hari Citra dan Ryan bermusuhan dan persahabatan mereka terpecah belah karena Ryan tidak sengaja menyobek baju kesayangan Citra yang diberikan neneknya. Sejak saat itu, Citra tidak mau lagi bersahabat dengan Ryan dan Putra.

            Pada malam hari, Ryan sedang memandangi bintang-bintang yang indah di langit. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Ryan sambil berkata agak keras, “Yan, dicari putra di depan !” kata ibu Ryan. Lalu Ryan menjawab,“ya bu, Ryan kesana”. Setelah itu Ryan langsung menghampiri putra. Di depan rumah Ryan, Putra sudah menunggu di bawah pohon mangga. “Gimana nih, udah dua hari kamu marahan sama Citra, kamu gak mau kita bertiga bersahabat lagi ?,” tanya Putra. “Aku sih sebernya pingin banget, tapi gimana lagi dia kemarin aku ajak ngomong tapi cuek, terus tadi pagi aku ke rumahnya, dianya enggak ada,” jawab Ryan dengan pasrah. “Giman akalau besok senin kamu minta maafnya, kamu kan satu kelas sama Citra ?”, usul Putra. “tapi aku ragu dia mau maafin aku, aku kan habis nyobekin baju kesayangannya yang diberikan neneknya put, trus aku udah coba minta maaf ke dia kemarin lusa tapi anaknya cuek,” tegas Ryan. “Udahlah Yan, jangan khawatir kamu kan ketika itu gak sengaja. Selain itu, kalau kamu enggak menarik Citra saat itu, dia udah jatuh ke sungai dan tenggelam. Kan sungainya dalam sekali, iya kan ?” Sahut Putra. “Iya juga, kalau gitu aku akan coba buat munta maaf ke dia” kata Ryan sambil menepuk punggung Putra.

            Esok harinya Putra dan Ryan berangkat ke sekolah diiringi kicau burung yang merdu dan sejuknya udara pagi. “Yan, gimana kalau kita coba jemput Citra, mungkin aja dia mau berangkat bareng kita dan sekaligus juga kamu bisa langsung minta maaf ke Citra ?” tanya Putra mendadak. “Ide bagis itu put, semoga aja dia ada di rumah” jawab Ryan dengan gembira. Lalu mereka berangkat ke rumah Citra. Disana, mereka tidak menemukan Citra. Rumah Citra terlihat kosong seperti tak berpenghuni. Dan, dua sahabat itu terlihat lesu karena tidak dapat menemui Citra sama sekali.

            Di kelas, setelah Ryan duduk di tempat duduknya, Ryan terus memandangi tempat duduk Citra yang kosong. Setiap menit, setiap detik, Ryan terus menantikan kedatangan Citra. Namun, sampai bel masuk berbunyi Citra tak juga datang. Tampak raut wajah yang sedih dan kecewa terpancar dari wajah Ryan. Tiba-tiba Zahri teman sebangku Citra menghampiri Ryan.”kamu nyari citra, Yan ?” tanya Zahri tiba-tiba. “Iya aku nyari Citra, kamu tau dia kemana kok nggak masuk ?” jawab Ryan sambil balik bertanya ke Zahri. “Katanya sih, dia pindah ke Bandung buat nemenin neneknya, kan kamu tau sendiri kamarin rabu kakeknya meninggal dunia,” jawab Zahri. “Yaudah terima kasih ya, udah ngasih tau, soalnya aku mau minta maaf ke dia sampai sekarang belum kesampaian,” kata Ryan sambil tersenyum walaupun di hatinya sangat sedih. “Iya Yan, sama-sama,” sahut Zahri sambil menjawab senyuman Ryan. Tiba-tiba 30 menit sebelum pulang, tiba-tiba Citra datang ke kelas tanpa mengenakan seragam. Setelah Citra meminta izin kepada Pak Budi guru matematika, lalu Citra mengucapkan salam perpisahan di depan kelas. “Teman-teman, setelah ini dan seterusnya aku pindah sekolah ke Banding, buat teman-teman, terima kasih udah mau berteman denganku dan memberikan kesan yang baik ketika aku sekolah disini. Aku tidak akan lupakan kalian semua, terima kasih” kata Citra di depan kelas. Setelah itu, Citra langsung keluar kelas ditemani Pak Budi, namun sebelum keluar Citra sempat memandang wajah Ryan. Untuk sesaat mereka saling memandang satu sama lain. Terpancar dari raut wajah citra kesedihan yang sangat mendalam dalam hatinya karena akan meninggalkan sahabat dan teman-temannya.

            Setelah pulang sekolah, tanpa basa-basi Ryan langsung menghampiri putra untuk mengajaknya ke rumah Citra. “Put, ayo kita ke rumah Citra sekarang, sebelum ia berangkat ke Bandung. Dia mau pindah sekolah ke Bandung, kamu mau ikut ke rumahnya buat ketemu untuk terakhir kalinya ?” tanya Ryan terburu-buru. “Iya aku ikut, Yan !” jawab Putra. “Kalau begitu cepat, sebelum dia berangkat !” kata Ryan. Setelah itu, mereka langsung berlari kencang menuju ke rumah Citra. Di depan rumahnya, Citra memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil. Ryan dan Putra langsung berlari ke arah Citra. “Cit, aku mau bicara sama kamu sebentar saja”teriak Ryan sambil berlari. Setelah Citra memasukkan barang-barangnya dan meminta izin kepada ayahnya, ia langsung menghampiri Ryan dan Putra. “Aku kira kalian nggak akan datang, kalian memang sahabat terbaikku,” kata Citra yang tiba-tiba meneteskan air mata bahagiannya. “Cit, tolong maafin aku karena udah nyobekin baju kesayangan kamu. Aku gak tau mau gimana lagi mau minta maaf. Kemarin lusa udah aku coba tapi kamunya cuek, terus aku kerumahmu tapi kamu enggak ada,” kata Ryan.

            “Enggak apa-apa kok, seharusnya aku yang minta maaf sama kamu karena udah nyuekin kamu. Sekarang aku tahu, kalau misalnya kamu enggak narik bajuku saat itu, aku pasti udah jatuh ke sungai,” jawab Citra. “terima kasih ya Cit, kalau boleh tau kamu kemarin kemana kok enggak ada di rumah ?” tanya Ryan. “Maaf ya, aku kemarin ke rumah saudaraku,” jawab Citra. “Jadi, kita bertiga masih bersahabat kan ?” tanya Putra menyela. “Ya, walaupun kita berjauhan, kita bersahabat untuk selamanya. Aku enggak akan lupain kalian, kalian sahabat terbaikku,” kata Citra menjawab pertanyaan Putra. “kamu masih memakai gelang persahabatan kita ?” tanya Putra. “Masih kupakai kok, kalau begitu aku berangkat dulu ya, kasihan papaku sudah menunggu lama”, jawab Citra. “Berjanjilah, kau akan mengingat kami jika bertemu lagi suatu hari nanti !”  kata Ryan sambil tersenyum kepada Citra. “Ya, aku akan mengingat kalian jika kita nanti bertemu lagi” sahut Citra.setelah itu, Citra bergegas ke mobil dan berangkat ke Bandung. Itulah kata-kata terakhir yang terucap dari seorang sahabat yang akan meninggalkan Ryan dan Putra ke tempat yang jauh.

No comments:

Post a Comment